Omran Dengan Kepala Berdarah, Wajah Berdebu, dan Baju Berlumuran Darah, duduk diam di belakang ambulans menunggu bantuan medis.

Siwaexpress

Sebuah foto anak-anak tidak berdosa begitu menggemparkan dunia. Dalam foto menyakitkan tersebut, Omran Daqneesh merupakan salah satu korban dari konflik berkepanjangan di Syria.

Itu yang hendak disuarakan aktivis-aktivis Syria saat memposting foto seorang anak lelaki yang selamat dari serangan udara ke sebuah gedung di Aleppo, Syria, Rabu (17/8/2016) lalu.

Dalam foto menyakitkan tersebut, terlihat Omran Daqneesh duduk membeku di dalam kursi ambulance. Dia baru saja diselamatkan dari reruntuhan rumahnya yang hancur akibat serangan udara. Darah masih terlihat di dahi bocah lima tahun tersebut. Seluruh tubuhnya diselimuti debu bekas reruntuhan. ”Bocah yang tertegun dan wajahnya berdarah ini menambah horror di Aleppo,” tulis anggota oposisi Syrian National Council Adib Shishakly.

Daqneesh seakan mengatakan pada dunia bahwa perang bukan hanya soal angka-angka korban tewas dan luka. Tapi ada ketidakpastian akan hidup dan trauma luar biasa pada para korban. Utamanya anak-anak seperti Daqneesh.

Pro-oposisi media center Aleppo (AMC) mengatakan kalau foto Daqnessh diambil di distrik Qaterji yang dikuasai pemberontak. Saat itu sebuah serangan udara Rusia menghantam dan menewaskan setidaknya tiga orang dan melukai belasan lainnya. ”Kami menyelamatkannya bersama-sama,” ujar fotografer Al Jazeera Mubashir Mahmoud Raslan yang mengambil foto tersebut kepada Associated Press. Ditambahkan Raslan, mereka menggotong tiga warga sipil yang tidak bernyawa sebelum menyelamatkan Daqness.

Video dan foto itu pun memicu shock dan kemarahan viral. Pagi ini (18/8) duta khusus untuk PBB di Syria Staffan de Mistura meminta langkah kemanusiaan dari kedua belah pihak, pemerintah dan oposisi. ”Saya berharap, setidaknya selama 48 jam kekerasan berhenti agar bantuan kemanusiaan bisa disalurkan untuk dua juta masyarakat yang terjebak di sana,” katanya seperti dilansir BBC (18/8) .

Sebelumnya, De Mistura walk out dari rapat dengan pasukan kemanusiaan PBB setelah delapan menit mengikuti pertemuan tersebut. Alasannya, karena tidak ada satu pun rombongan bantuan yang diizinkan masuk kawasan perang sejak baku tembak berlangsung awal bulan ini.

Laporan Unicef selama ini menyebutkan banyak anak Suriah terluka karena perang saudara yang tak juga mereda. Di sejumlah media daring, banyak tersebar ribuan foto anak-anak Suriah dalam kondisi memilukan, termasuk foto bocah 5 tahun bernama Omran Daqneesh. Dilansir The Guardian, Kamis 18 Agustus 2016, foto bocah itu telah mengguncang dunia, sama seperti foto bocah Suriah Alan yang tewas di laut Turki tahun lalu saat akan mengungsi ke Yunani.

Foto kali ini menggambarkan Omran dengan kepala berdarah, wajah berdebu, dan baju berlumuran darah, duduk diam di belakang ambulans menunggu bantuan medis. Saat ini, Omran telah dirawat di rumah sakit setempat.

Sebenarnya banyak anak bernasib sama seperti Omran. Mereka tak tahu apa-apa, tetapi selama 6 tahun terakhir harus menanggung penderitaan karena konflik antara kelompok oposisi dan pemerintah.

Situasi itu diperburuk dengan masuknya kelompok teroris ISIS dan Alqaida ke negara tersebut.

Konflik Suriah sudah memasuki tahun keenam dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda mereda. Justru, konflik mengeskalasi setelah ISIS masuk ke wilayah itu akhir tahun lalu. Sejak saat itu, mereka terus melakukan serangan yang membunuh banyak warga Suriah. Jumlah korban tewas sejak konflik meletup awal 2011 lalu telah tembus lebih dari 250 ribu orang.

Di Suriah, ISIS mendirikan kekalifahan di kota Raqqa. Pusat kekalifahan ISIS sendiri berada di Mosul, Irak, yang didirikan Juni tahun 2015. Awalnya, konflik Suriah merupakan perseteruan antara kelompok pro pemerintah dan kelompok oposisi yang ingin pemerintahan Bashar Al-Assad lengser.

Namun, kini konflik tersebut meluas dengan munculnya ISIS di Suriah. Pemerintah Suriah pun saat ini bukan hanya menghadapi perlawanan dari massa oposisi tetapi juga ISIS. Sama dengan kelompok resmi oposisi Suriah, ISIS juga ingin menggulingkan Assad. Namun sampai saat ini, Assad masih kuat. Bahkan, Assad mendapat dukungan dari sejumlah sekutunya karena pernyataan Assad yang menyebutkan kelompok oposisi Suriah disusupi teroris seolah menjadi kebenaran setelah ISIS menguasai sejumlah wilayah Suriah.*